Monday, October 15, 2018

A M O U R




(a letter from Richard before he die)
 Mandy...
Sebelum kamu baca ini, aku mohon jangan sampai ada lelehan airmata di pipimu. Aku tau ini sulit untuk kita, tapi memang inilah yang terjadi, kita tak bisa mengelak. Semuanya sudah rencana Tuhan. kita bisa apa ketika Tuhan telah mengatakan A maka akan A dan selamanya akan selalu A, kita tak dapat mengubahnya. Begitu pula dengan keadaan kita.
Di atas kehancuran di ambang kesedihan yang mendalam, aku minta maaf. Ini bukan keinginanku, ini bukan keinginanmu, tapi ini takdir yang di tulis Tuhan untuk aku, untuk kita .Jangan menyalahkan keadaan. Apalagi sampai menyalahkan dirimu sendiri.
Percayanlah, kepergianku ini bukan akhir dari perjalananmu selanjutnya. Masih akan ada perjalanan yang panjang menunggumu. Tetaplah menjalani hidup sebagai mana kamu menjalani hidup sebelum bertemu denganku. Aku yakin suatu saat nanti akan ada lelaki yang lebih baik dariku. Dan kamu akan jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. jangan pernah takut untuk jatuh cinta kembali. Jangan pernah merasa terkekang hanya karena aku pernah mengikatkamu dalam janji suci di dalam gereja sebelumnya. Kamu berhak meraih kebahagian berikutnya, kebahagian yang belum kamu dapatkan saat kamu masih bersamaku.
Mandy..
Maafkan aku, karena aku tak bisa memenuhi beberapa janjiku padamu
Maafkan aku, karena aku memulai suatu hal yang tak bisa aku akhiri dengan baik
Maafkan aku, karena selama ini aku selalu bersifat pengecut, posesif, dan tempramental. Kamu tau itu hanya karena aku teramat mencintaimu, aku tak ingin kamu berpaling dariku.
Dan.. terimakasih juga karena kamu mengizinkan untuk aku mencintaimu, memilikimu, menghirup aroma tubuhmu sampai sisa akhir hidupku, terimakasih untuk setiap pelukanmu, setiap ciumanmu dan setiap sentuhanmu. Aku lelaki paling beruntung, kamu tahu?
Satu hal lagi yang ingin ku sampaikan padamu
Aku mencintaimu di sepanjang keabadian
Your Husband
Richard
***     ***     ***
Mengenal kamu adalah sesuatu yang awalnya tak pernah aku harapkan, kamu hadir dalam hidupku dengan semua kelakuan busukmu, kamu adalah pria yang yang sama sekali tak ingin aku jumpai di dunia ini. Aku membencimu dengan segala kelemahanku. Melihatmu, seperti aku melihat sosok pria brengsek seperti yang selalu ku baca dalam novel. Kebiasaanmu bermain wanita setiap malamnya, mabuk-mabukan, arogan, dan perokok aktif serta selalu membantai mereka yang lemah. Kadang aku ingin sekali bertanya pada dirimu, apa yang sebenarnya kamu inginkan dan apa tujuanmu hidup jika setiap hari yang kulihat darimu adalah kelakuan busukmu, tapi sayang aku terlalu membencimu, hingga untuk menatap wajahmu pun aku tak ingin. Sampai akhirnya, adik kandungku sendiri menjadi korbanmu, kamu mempermainkanya, kamu mengambil mahkotanya, sampai dia mengandung anakmu, anak yang bahkan tidak sudi untuk kamu akui keberadaanya, kamu malah menyuruh adiku untuk menggugurkanya, dia terluka. Tanpa aku dan orangtuaku ketahui dia menggugurkan janin dalam kandunganya hanya agar kamu tidak membencinya. Tapi apa yang dia dapat setelah itu? Kamu berselingkuh darinya. adiku menjadi gila. Dia sering menangis semalaman, menangisi pria brengsek sepertimu, dia menjadi pemurung, dan yang parahnya dia menyilet lenganya agar rasa sakit di hatinya dapat berkurang. Satu bulan lebih dia depresi, selama itu aku dan orangtuaku selalu membawanya pada ahli kejiwaan, tapi tak ada yang berubah darinya. dia selalu berteriak memanggil namamu. Ingin rasanya saat itu aku menemuimu membawamu kehadapan adiku agar kamu dapat melihat betapa hancurnya hidup adiku karenamu, lalu setelah itu aku akan mencekikmu sampai mati untuk menggganti nyawa keponakanku yang belum sempat terlahir. Aku berusaha untuk selalu mendampinginya, merayunya agar dia dapat melupakanmu dan kembali hidup normal. Tapi sayang, entah kesalahan apa yang aku dan keluargaku lakukan hingga kejadian itu terjadi, dia bunuh diri dengan memutuskan urat pergelangan tanganya menggunakan serpihan kaca. Kami kehilanganya, aku kehilangan adiku satu-satunya. Dan itu semakin membuatku membencimu. Dan saat itu sudah kuputuskan aku akan membalas kematian adiku juga keponakanku terhadapmu.
Aku merayumu, aku menghilangkan harga diriku agar kamu jatuh cinta terhadapku lalu setelah itu BLAMS aku akan meninggalkanmu dan membuatmu desprete seperti adiku, cukup adil bukan?
Satu malam, saat kamu tengah balapan motor, aku datang untuk melihatmu bertanding. Memang harus aku akui kamu memang hebat untuk hal itu. Aku mengahampirimu yang tengah ber-high-five dengan teman-temamu atas kemenanganmu. Berprilaku seperti jalang untuk menggodamu dan mengabiskan satu malam bersamamu. Kejadian itu membuat kita semakin dekat dan tentu saja itu semakin melancarkan aksi balas dendamku terhadapmu. Kita sering pergi berdua, entah itu menonton, makan, bahkan sampai menghabiskan malam dengan panas. Dan puncaknya ketika kamu menyatakan perasaan cintamu terhadapku dan aku menolakmu karena aku masih belum tahu apakah kamu benar-benar mencintaiku atau tidak. Saat aku menolakmu, kamu semakin gencar mendekatiku, memberiku hal-hal romantis yang para wanita idam-idamkan untuk menunjukan betapa kamu mencintaiku bahkan aku baru menyadari semenjak dekat denganku kamu tak pernah lagi tidur dengan wanita selain diriku, kamu tak pernah lagi mabuk tak pernah merokok lagi tak pernah balapan liar juga kamu berhenti melakukan kekerasan terhadap mereka yang lemah. Aku tahu, kamu sudah benar-benar mencintaiku.
Kelakuanmu terhadapku membuat sesuatu dalam diriku bergetar dan menghangat. Ada rasa nyaman juga bahagia bila aku bersamamu, dan pada saat itu pula aku takut, aku takut jatuh pada pesonamu dan membuat diriku seperti adiku berakhir dengan tragis. Aku marah pada diri sendiri karena aku memang jatuh cinta padamu tapi aku menutupinya darimu. Hingga satu hari kamu mengetahui rencana itu, rencana aku mendekatimu untuk balas dendam. Kamu marah padaku, tapi itu tak berlangsung lama, setelah itu kamu bersujud di kakiku untuk mendapatkan kata maaf dariku atas perbuatanmu pada adiku. Untuk yang pertama kalinya aku melihatmu menangis di hadapan orang yaitu aku. Kamu mengatakan berkali-kali bahwa kamu meyesal. Tapi aku tak memaafkanmu, meskipun telah ku akui aku mencintaimu dan memaafkanmu itu mudah bagiku karena aku telah mencintaimu. Tapi sungguh rasa nyeri itu masih ada bila aku mengingat kembali bagaimana hidup adiku saat kamu menginggalkanya, saat adiku menggugurkan kandunganya agar bisa bersamamu dan saat adiku depresi hingga akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri dan demi tuhan itu membuat rasa cintaku padamu tertutupi oleh rasa benciku.
Aku menyiksamu secara psikis, membuatmu seperti budak, menyuruhmu ini dan itu, menyakitimu berkali-kali hingga kamu jatuh sakit. Kamu semakin tak terawat bersamaku, senyum tegasmu yang dulu selalu kamu tunjukan pada orang-orang tegantikan menjadi senyum kepedihan, lingkaran di bawah matamu semakin menghitam, mata elangmu yang indah menjadi sayu, tubuhmu yang kekar kini menjadi kurus. Dan aku bahagia melihat itu semua, dendamku terhadapmu semakin terpenuhi. Kamu tahu? Itulah yang dialami oleh adiku. Mencintai itu menyakitkan, bukan?
Berbulan-bulan aku memperlakukanmu layaknya seekor binatang. Aku sangat menikmati ketika melihatmu menangis. Itu sangat menabjubkan. Sampai akhirnya, setitik rasa sedih menyergap di hatiku. Batinku tersiksa melihatmu tak beraya di bawah tanganku, tapi tetap ego dendamku menutupi itu semua. Aku terlalu larut dalam permainanku hingga ketika aku melihatmu tak sadarkan diri selama berhari-hari di rumah sakit. Dokter bilang kamu terlalu kelelahan, kurang asupan nutrisi yang menyebabkan kamu tak sadarkan diri. Duniaku terasa hancur, bahagiaku seakan terenggut, aku takut kehilanganmu. Dan saat itu aku sadar aku mencintaimu, dan aku menyesal memperlakukanmu dengan buruk, aku terlalu menuruti rasa egoisku.
Saat kamu sadar, Aku menagis di dadamu, mengatakan maaf berkali-kali di telingamu. Kamu tersenyum, dan memaafkanku. Duniaku kembali utuh.
Dua bulan berlalu, kamu melamarku di hadapan orangtuaku, kamu merayunya dan memastikan kepada orangtuaaku bahwa kamu tak akan pernah menyakitiku, kamu akan selalu membuatku bahagia, hingga akhirnya kita mendapat restu dari mereka.
Kita menikah, pesta yang kamu rayakan dengan besar, semua orang kamu undang. Aku bahagia.
Kamu mengajaku bulan madu ke California, tempat yang selama ini memang ingin aku kunjungi, kita terlihat seperti ABG yang baru merasakan cinta. Semuanya kita lewati dengan bahagia. Itu adalah hari sempurna yang pernah ada,  tidak maksudku kamu yang membuat itu semua menjadi sempurna. Layaknya pengantin baru, kita tak pernah terpisahkan. Di  mana ada kamu di situ pasti ada aku.
Selama itu aku mengerti, kamu adalah pria satu-satunya yang mengajarkanku arti cinta sebenarnya, kamu tak pernah menyakitiku. Hidup ku sangat sempurna bahkan lebih sempurna dari seorang Juliet ataupun Cinderella.
4 bulan setelah pernikahan kita, aku hamil, rahimku kini ada sosok mahluk hidup, buah cinta kita, aku ingat betapa bahagianya kamu saat kamu mengetahui aku mengandung, kamu mengadakan pesta atas kehamilanku, kamu menjadi lebih posesif, melarangku ini dan itu, bahkan untuk mengambil air minum di dapur saja kamu melarangku, semua sepatu high heels-ku kamu sembunyikan kamu hanya memperbolehkanku memakai flat shoes dan sepatu convers. Setiap pagi dan malam kamu tak pernah absen membuatkanku susu, kamu akan selalu memeluku, menciumiku, mengelus rambutku jika aku akan tidur, kebiasaan manjaku saat hamil. Seminggu setelah kehamilanku menginjak 5 bulan, kita kehilanganya, kita kehilangan bayi kita. Dokter mengatakan jantung anak kita lemah hingga mengakibatkan dia kehilngan nyawanya. Semuanya hancur impian kita menjadi orangtua dalam beberapa bulan kedepan musnah. Aku histeris dan menangis, tapi kamu selalu ada di sampingku mengatakan bahwa kita akan mempunyai anak kembali, setiap  malam kamu habiskan untuk menghiburku. dan pada saat itu aku sadar aku tak boleh egois, aku harus merelakan anak kita. Satu malam terhitung 2 minggu setelah kematian calon anak kita, aku melihatmu sedang duduk sendirian di balkon kamar kita, wajahmu kamu telusupkan di antara kedua tanganmu, terdengar isakan suara tangis darimu. Kamu menangis,sayang. Beberapa kata keluar diantara isakanmu, kata yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya, kamu mengatakan “Autumn, Autumn, Autumn”
Autumn, sebuah kata yang sederhana, namun begitu berarti bagi kita. Autumn adalah nama untuk calon anak kita, sesuai prediksi Dokter anak kita akan lahir pada musim semi. Namun apa daya tuhan lebih menyayanginya hingga dia bahkan tak sempat untuk menghirup udara juga kita tak sempat untuk menatap wajahnya, kita bahkan belum mendengar isak tangisnya untuk yang pertama, kita belum mendengar dia mengatakan “ mommy” ataupun “daddy”

1 bulan berlalu kehidupan kita kembali normal. Kamu tak pernah lagi menangis sendirian di malam hari, namun ada yang berubah padamu, kamu menjadi mudah lelah, wajahmu semakin memucat setiap harinya seperti mayit, berat badanmu selalu berkurang, matamu sayu juga rambutmu semakin kian menipis, apa yang terjadi padamu sayang?
Setiap kali kutanyakan apa yang terjadi padamu, kamu selalu mengatakan itu adalah akibat kamu kelelahan dalam bekerja, untuk yang pertama aku percaya alasanmu, kedua kalinya aku ragu, ketiga kalinya aku tak pecaya. Kamu semakin parah, hampir setiap harinya hidungmu mengalami pendarahan, kamu juga sering tak sadarkan diri. Aku memaksamu untuk ke rumah sakit tapi kamu selalu menolaknya, kamu tau, aku semakin curiga terhadapmu. Suatu hari kamu tak sadarkan diri. Aku langsung membawamu ke rumah sakit, di sana dokter mengambil sample darahmu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padamu. Esoknya dokter memberitahuku bahwa kamu mengalami gangguan syaraf pada otak kananmu, yang mengakibatkan sakit kepala, pendarahan hidung, juga tak sadarkan diri. Penyakitmu sudah parah. Dan sayang, mengapa kamu tak pernah memberitahuku?
8 hari kamu tak sadarkan diri, begitu kamu sadar aku melihatmu tersenyum pedih kepadaku, sedangkan aku menangis melihat keadaanmu saat itu, kamu mengelus rambut juga bahuku, mengecup bibirku berkali-kali dan mengatakan maaf karena kamu tak memberitahuku mengenai hal ini. Hampir 3 minggu kamu berbaring di rumah sakit, tapi tak menunjukan apa-apa, kamu tak menjadi lebih baik bahkan sebaliknya kamu semakin parah. Hal yang lebih menyakitkan dari hal ini adalah  ketika dokter mengatakan waktumu tak sampai sebulan lagi. Its great, right? Baru saja aku kehilangan anaku dan sekarang haruskah aku kehilangan suamiku? Inikah yang Kau sebut adil, Tuhan?
Tepat di malam tahun baru, kamu menghembuskan nafas terakhirmu.
Apa yang lebih pahit dari yang telah terjadi kali ini??


2 YEARS LATER
Aku menatap wajahku sekali lagi di depan cermin, dua tahun sudah Richard meninggalkanku, dan tepat hari ini aku akan menikah kembali, bukan karena aku sudah tidak mencintai Richard dan melupakanya, dia masih ada di dalam hatiku.
“ Mandy, ayo! Albert sudah menunggumu” suara bariton ayahku mengintrupsiku.
Sesampainya di dalam gereja, ayah menggandeng tanganku, bersama-sama kami berjalan menuju altar pernikahan, ayah menyerahkanku pada Albert, dia tersenyum lalu menggenggam tanganku, kami berdua menghadap pada Pendeta yang akan menikahkan kami.
“sodara Albert Immanuel apakah anda bersedia menerima Amanda Rouyel sebagai istri dan ibu dari anak-anakmu dalam susah maupun senang, dalam kaya ataupun miskin, sehat maupun sakit?”
“ya saya Albert Immanuel menerima Amanda Rouyel sabagai istri dan ibu dari anak-anak saya dalam susah maupun senang, miskin ataupun kaya juga sehat maupun sakit”
“ sodari Amanda Rouyel apakah anda bersedia menerima Albert Immanuel sebagai suami serta ayah dari anak-anakmu dalam susah maupun senang, kaya maupun miskin , sehat maupun sakit?”
“ ya, saya Amanda Rouyel menerima Albert Immanuel sebagai suami serta ayah dari anak-anak saya dalam susah ataupun senang, kaya maupun miskin, sehat ataupun sakit”
Riuh suara tepuk tangan berdengung ketika kami selesai mengucapkan janji abadi di depan semua orang dan terutama di depan Tuhan.
Sesuai permintaanmu, aku telah bahagia saat ini Richard, aku harap kamu merestui pernikahan kami, semoga kamu dapat merasakan kebahagianku di surga sana.

TAMAT

No comments:

Post a Comment