Monday, October 15, 2018

K E S A L A H A N


Kesalahan

Alunan melodi yang begitu indah terdengar dari salah satu ruangan di tempat ini, suara klasik dari dentingan piano yang sepertinya si pemain begitu mahir memainkanya, siapaun yang mendengar pasti akan merasa takjub. Langkahnya yang pelan dan sangat hati-hati kini telah sampai di depan pintu ruangan itu, tangan kirinya bergantung untuk menyentuh knop pintu, perlahan tapi pasti pintu itu telah terbuka sedikit, membuatnya dapat melihat siapa sebenarnya yang memainkan piano dengan begitu indahnya, matanya menelosok kesana kemari hingga pandanganya jatuh pada sosok pria yang duduk di balik alat musik yang di sebut piano. Pria yang kelihatanya sangat gagah dengan kaos polo shirt hitam juga selana jeans biru belelnya, sayang wajahnya terhalang oleh tihang yang ada di tempat itu. Saking terlarutnya dalam alunan musik itu, tanpa dia sadari kini dia tengah duduk di salah satu tempat duduk yang biasanya di sediakan untuk penonton bila ada pertunjukan, tapi sepertinya bagi dia ini adalah sebuah pertunjukan yang lebih indah juga privat bagaimana tidak? dia satu-satunya penonton di sini juga satu lagi ini gratis. Siapa sih yang tidak menyukai kata gratis? Semua orang pasti akan menyukainya.
15 menit berlalu alunan indah itu berhenti, tanganya terangkat dan bertepuk tangan dengan heboh juga mulutnya yang tak berhenti untuk tersenyum, dia berdiri dan kemudian berjalan ke arah pria itu, senyumnya masih tak memudar dari mulutnya bahkan kini sangat lebar. Tepat di depan pria itu kini dia berdiri, matanya menatap lansung pada manik mata pria itu, indah satu kata untuk menggambarkan mata sang pria, biru laut yang membuat siapa saja pasti rela untuk tenggelam di dalamnya, suara dehaman membuyarkan semua pemikiranya, pipinya merona karena kepergok sedang menatap pria itu secara terang-terangan
“ kamu hebat memainkanya” hanya kata-kata itu yang dapat dia keluarkan setelah hampir 4 menit berdiam, pria itu menatapnya sekilas sebelum akhirnya merespon apa yang baru saja di katakan gadis di depanya
“terimakasih” jawab pria itu kemudian pergi meninggalkanya, tapi sebelum pria itu benar-benar menghilang, sebuah suara menyuruhnya untuk berhenti
“ tunggu! Jika boleh tau, siapa namamu?” tanyanya, pria itu membalikan tubuhnya dan tersenyum tipis
“akan ku beri tau di pertemuan kedua kita” jawabnya dan kini pria itu benar-benar pergi.

***                  ***                  ***
Rain, nama gadis yang sampai hari ini selalu terbayang akan pertemuanya bersama seorang pria tampan di galeri musik milik ayahnya, mata biru laut yang membuatnya terpesona. Sudah berkali-kali bahkan ribuan kali Rain menanyakan kepada ayahnya tentang pria itu namun jawaban yang selalu sama yang dia dapatkan dari ayahnya yakni, “Ayah gatau, ciri-ciri pria yang kamu sebutkan tadi banyak Rain, dan ga mungkin Ayah inget” sesungguhnya Rain sangat kesal pada ayahnya itu, dia bilang pria yang seperti itu banyak buktinya hampir setiap hari dia datang ke tempat itu tak ada satu pun pria yang ciri-cirinya sama seperti pria misterius itu.
Jika di hitung ini adalah hari ke sembilan Rain tak bertemu kembali dengan pria pujaan hatinya itu alias pria misterius yang dia temui di galeri musik. Hidupnya kini bagai puteri Aurora yang akan hidup kembali setelah dia mendapatkan ciuman dari sang pangeran. Bedanya, Rain bukan menunggu sang pangeran untuk mendapatkan ciuman tapi untuk mengetahui siapa nama sang pangeran.
Jam yang melingkar di tangan kirinya telah menunjukan pukul 4 sore, itu artinya sudah waktunya untuk dia pergi ke kafe langgananya, di perjalanan matanya tak henti memandangi setiap sudut jalan bahkan dia sering turun dari mobil jika dia melihat kadai makanan yang menurutnya sangat lezat, tentu saja kelakuan Rain itu membuat sang supir sedikit kesal karena berkali-kali dia menghentikan laju mobilnya. Tangan Rain kini tengah di penuhi oleh banyak makanan mulai dari kebab, baso tau, sampai cilok. Di dalam mobil dia memakan semua yang dia beli, pandanganya dia susurkan pada jalanan yang mulai macet, hingga mobil berhenti akibat lampu merah, matanya beralih kepada salah satu kios yang menjual berbagai macam bunga, satu titik yang kini menjadi fokusnya yaitu sosok pria yang di kenalnya sekaligus sangat di rindukanya siapa lagi jika bukan si pria misterius, pria itu terlihat sedang membeli beberapa tangkai bunga mawar putih. Setelah selesai pria itu kembali menjalankan motor sportnya, tanpa berpikir lagi Rain menyuruh supirnya untuk mengikuti pria itu.
Motor itu berhenti tepat di depan gerbang pemakaman, pikiran Rain berkecamuk bertanya-tanya siapa yang akan di temui pria itu di sana, Rain turun dari mobilnya dan mengikuti pria itu dari belakang. Pria itu berhenti pada salah satu makam, Airina Ayu Lestari, nama yang tertera dalam batu nisanya, lahir pada bulan Maret tanggal 10 tahun 1992 dan wafat pada tahun 2012 bulan Agustus tanggal 08.
Tatapanya kembali pada sosok pria itu, dia kini tengah berjongkok, bunga mawarnya telah dia taruh batu nisan milik Airina. Tangan pria itu mengelus batu nisanya, wajahnya menunduk, tangan kirinya terarah pada wajahnya yang menunduk dan mengusap sesuatu yang ada di wajahnya. Apakah dia menangis? Jika iya, sepertinya Airina itu sangat berarti untuk hidup si pria itu. Tapi siapa sosok Airina itu?
Karena terlalu lama berpikir Rain tak menyadari bahwa sosok pria itu sudah meninggalkan tempat pusaran tadi, pandangan Rain berkelana mencari sosok pria itu kesana-kemari tapi dia tak menemukanya, akhirnya dengan tidak semangat dia berjalan untuk kembali ke mobil dan pulang, di tengah perjalanan yang sangat tidak bergairah itu karena dia gagal mendapatkan nama sang pria. Rain merasakan bahwa kini dia tengah di ikuti, Rain mempercepat langkahya hingga saat dia hampir sampai mobil, seorang pria memotong jalanya dan pria itu berdiri di hadapanya. Pria itu, pria yang yang selalu dia pikirkan, pria yang selalu muncul dalam setiap mimpinya, pria yang penuh dengan sejuta pesona, pria itu kini ada di hadapanya dengan kemeja hitam panjang yang di lipat hingga siku, celana bahan warna hitam, rambutnya yang acak-acakan namun terkesan elegn, juga mata biru lautnya yang indah. Semua itu sangat sempurna.
“aku tau sejak di kios bunga kamu mengikutiku”

*******

Awan hitam bergemuruh, langit seakan-akan sedang menumpahkan kekesalanya melalui butiran air hujan, tapi percayalah itu hanya sesaat. Langit tak akan mungkin marah. Itu hanya sebuah perumpamaan yang selalu di katakan mereka yang kesal terhadap sesuatu. Harum aroma pertichior menguap. Aroma menenangkan untuk orang yang menyukai hujan sepertinya. Hujan itu mendamaikan pikirnya. pandanganya kini tertuju pada pria di hadapanya, pria yang kini dia ketahui bernama ‘Edgar’.
“ kamu tau, aku selalu mencari tahu tentangmu, hanya untuk mengetahui namamu” ucap Rain. Edgar tersenyum tipis pandanganya hanya tertuju pada secangkir kopi hitam di hadapanya, tanganya mengadu-aduk kopi menggunakan sendok. Rain berdeham mengingatkan Edgar bahwa ada dia di hadapanya tapi sepertinya kopi hitamnya itu lebih menarik dari pada gadis di hadapanya.
“jika kopi itu lebih menarik dariku hingga kamu tak memperdulikanku, maka seharusnya aku pergi dari sini. Karena semuanya terasa percuma” Rain mulai beranjak dari tempat duduknya namun sebelah tangan kirinya tertahan oleh tangan kanan milik Edgar. Edgar menatap Rain seolah-olah menyuruhnya untuk tetap duduk. Rain mengangguk.
“ kamu sudah mengetahui namaku, lalu apalagi yang kamu inginkan dariku?” kalimat itu terdengar sangat datar dan menyeramkan di telinga Rain, Rain menunduk bingung harus menjawab apa. Dia menggigit pipi dalamya sebelum akhirnya menatap wajah lelaki di hadapanya yang juga sedang memandanginya
“ mengapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Rain
“salah bila aku bertanya seperti itu?” Edgar bertanya kembali, Rain menegak ludahnya. Dia hanya bisa diam
“kamu tahu, di dunia ini hanya ada dua type lelaki yaitu lelaki brengsek dan lelaki banci, aku adalah type lelaki brengsek. Maka dari itu jangan pernah mencaritahu tentangku lagi.”
Edgar beranjak dari mejanya, terhitung baru tiga langkah Rain berteriak dari mejanya
“tapi aku mencintaimu brengsek!!!” tangisnya pecah airmatanya turun seperti air terjun, Edgar pria brengsek itu tak mengindahkan teriakanya, jangankan untuk kembali dan meminta maaf pada Rain, menoleh pun tidak.
Kini gadis itu mengerti dia terlalu cepat menilai orang, dia juga terlalu bodoh untuk jatuh cinta pada pria yang baru sekali di temuinya. Tak semua pria yang dia anggap baik sebenarnya juga baik. Edgar contohnya pria yang yang dia kagumi, dia anggap baik juga lembut tapi nyatanya dia brengsek.

No comments:

Post a Comment