Kesalahan
Alunan melodi yang begitu indah terdengar dari salah satu
ruangan di tempat ini, suara klasik dari dentingan piano yang sepertinya si
pemain begitu mahir memainkanya, siapaun yang mendengar pasti akan merasa
takjub. Langkahnya yang pelan dan sangat hati-hati kini telah sampai di depan
pintu ruangan itu, tangan kirinya bergantung untuk menyentuh knop pintu,
perlahan tapi pasti pintu itu telah terbuka sedikit, membuatnya dapat melihat
siapa sebenarnya yang memainkan piano dengan begitu indahnya, matanya menelosok
kesana kemari hingga pandanganya jatuh pada sosok pria yang duduk di balik alat
musik yang di sebut piano. Pria yang kelihatanya sangat gagah dengan kaos polo
shirt hitam juga selana jeans biru belelnya, sayang wajahnya terhalang oleh tihang
yang ada di tempat itu. Saking terlarutnya dalam alunan musik itu, tanpa dia
sadari kini dia tengah duduk di salah satu tempat duduk yang biasanya di
sediakan untuk penonton bila ada pertunjukan, tapi sepertinya bagi dia ini
adalah sebuah pertunjukan yang lebih indah juga privat bagaimana tidak? dia
satu-satunya penonton di sini juga satu lagi ini gratis. Siapa sih yang tidak
menyukai kata gratis? Semua orang pasti akan menyukainya.
15 menit berlalu alunan indah itu berhenti, tanganya
terangkat dan bertepuk tangan dengan heboh juga mulutnya yang tak berhenti
untuk tersenyum, dia berdiri dan kemudian berjalan ke arah pria itu, senyumnya
masih tak memudar dari mulutnya bahkan kini sangat lebar. Tepat di depan pria
itu kini dia berdiri, matanya menatap lansung pada manik mata pria itu, indah
satu kata untuk menggambarkan mata sang pria, biru laut yang membuat siapa saja
pasti rela untuk tenggelam di dalamnya, suara dehaman membuyarkan semua
pemikiranya, pipinya merona karena kepergok sedang menatap pria itu secara
terang-terangan
“ kamu hebat memainkanya” hanya kata-kata itu yang dapat
dia keluarkan setelah hampir 4 menit berdiam, pria itu menatapnya sekilas
sebelum akhirnya merespon apa yang baru saja di katakan gadis di depanya
“terimakasih” jawab pria itu kemudian pergi
meninggalkanya, tapi sebelum pria itu benar-benar menghilang, sebuah suara
menyuruhnya untuk berhenti
“ tunggu! Jika boleh tau, siapa namamu?” tanyanya, pria
itu membalikan tubuhnya dan tersenyum tipis
“akan ku beri tau di pertemuan kedua kita” jawabnya dan
kini pria itu benar-benar pergi.
*** *** ***
Rain, nama gadis yang sampai hari ini selalu terbayang
akan pertemuanya bersama seorang pria tampan di galeri musik milik ayahnya,
mata biru laut yang membuatnya terpesona. Sudah berkali-kali bahkan ribuan kali
Rain menanyakan kepada ayahnya tentang pria itu namun jawaban yang selalu sama
yang dia dapatkan dari ayahnya yakni, “Ayah gatau, ciri-ciri pria yang kamu
sebutkan tadi banyak Rain, dan ga mungkin Ayah inget” sesungguhnya Rain sangat kesal
pada ayahnya itu, dia bilang pria yang seperti itu banyak buktinya hampir
setiap hari dia datang ke tempat itu tak ada satu pun pria yang ciri-cirinya
sama seperti pria misterius itu.
Jika di hitung ini adalah hari ke sembilan Rain tak
bertemu kembali dengan pria pujaan hatinya itu alias pria misterius yang dia
temui di galeri musik. Hidupnya kini bagai puteri Aurora yang akan hidup
kembali setelah dia mendapatkan ciuman dari sang pangeran. Bedanya, Rain bukan
menunggu sang pangeran untuk mendapatkan ciuman tapi untuk mengetahui siapa
nama sang pangeran.
Jam yang melingkar di tangan kirinya telah menunjukan
pukul 4 sore, itu artinya sudah waktunya untuk dia pergi ke kafe langgananya,
di perjalanan matanya tak henti memandangi setiap sudut jalan bahkan dia sering
turun dari mobil jika dia melihat kadai makanan yang menurutnya sangat lezat,
tentu saja kelakuan Rain itu membuat sang supir sedikit kesal karena
berkali-kali dia menghentikan laju mobilnya. Tangan Rain kini tengah di penuhi
oleh banyak makanan mulai dari kebab, baso tau, sampai cilok. Di dalam mobil dia memakan semua yang dia beli, pandanganya
dia susurkan pada jalanan yang mulai macet, hingga mobil berhenti akibat lampu
merah, matanya beralih kepada salah satu kios yang menjual berbagai macam bunga,
satu titik yang kini menjadi fokusnya yaitu sosok pria yang di kenalnya
sekaligus sangat di rindukanya siapa lagi jika bukan si pria misterius, pria
itu terlihat sedang membeli beberapa tangkai bunga mawar putih. Setelah selesai
pria itu kembali menjalankan motor sportnya, tanpa berpikir lagi Rain menyuruh
supirnya untuk mengikuti pria itu.
Motor itu berhenti tepat di depan gerbang pemakaman,
pikiran Rain berkecamuk bertanya-tanya siapa yang akan di temui pria itu di
sana, Rain turun dari mobilnya dan mengikuti pria itu dari belakang. Pria itu
berhenti pada salah satu makam, Airina Ayu Lestari, nama yang tertera dalam
batu nisanya, lahir pada bulan Maret tanggal 10 tahun 1992 dan wafat pada tahun
2012 bulan Agustus tanggal 08.
Tatapanya kembali pada sosok pria itu, dia kini tengah
berjongkok, bunga mawarnya telah dia taruh batu nisan milik Airina. Tangan pria
itu mengelus batu nisanya, wajahnya menunduk, tangan kirinya terarah pada
wajahnya yang menunduk dan mengusap sesuatu yang ada di wajahnya. Apakah dia
menangis? Jika iya, sepertinya Airina itu sangat berarti untuk hidup si pria
itu. Tapi siapa sosok Airina itu?
Karena terlalu lama berpikir Rain tak menyadari bahwa
sosok pria itu sudah meninggalkan tempat pusaran tadi, pandangan Rain berkelana
mencari sosok pria itu kesana-kemari tapi dia tak menemukanya, akhirnya dengan
tidak semangat dia berjalan untuk kembali ke mobil dan pulang, di tengah
perjalanan yang sangat tidak bergairah itu karena dia gagal mendapatkan nama
sang pria. Rain merasakan bahwa kini dia tengah di ikuti, Rain mempercepat
langkahya hingga saat dia hampir sampai mobil, seorang pria memotong jalanya
dan pria itu berdiri di hadapanya. Pria itu, pria yang yang selalu dia
pikirkan, pria yang selalu muncul dalam setiap mimpinya, pria yang penuh dengan
sejuta pesona, pria itu kini ada di hadapanya dengan kemeja hitam panjang yang
di lipat hingga siku, celana bahan warna hitam, rambutnya yang acak-acakan
namun terkesan elegn, juga mata biru lautnya yang indah. Semua itu sangat
sempurna.
“aku tau sejak di kios bunga kamu mengikutiku”
*******
Awan hitam bergemuruh, langit seakan-akan sedang
menumpahkan kekesalanya melalui butiran air hujan, tapi percayalah itu hanya
sesaat. Langit tak akan mungkin marah. Itu hanya sebuah perumpamaan yang selalu
di katakan mereka yang kesal terhadap sesuatu. Harum aroma pertichior menguap.
Aroma menenangkan untuk orang yang menyukai hujan sepertinya. Hujan itu
mendamaikan pikirnya. pandanganya kini tertuju pada pria di hadapanya, pria
yang kini dia ketahui bernama ‘Edgar’.
“ kamu tau, aku selalu mencari tahu tentangmu, hanya
untuk mengetahui namamu” ucap Rain. Edgar tersenyum tipis pandanganya hanya
tertuju pada secangkir kopi hitam di hadapanya, tanganya mengadu-aduk kopi
menggunakan sendok. Rain berdeham mengingatkan Edgar bahwa ada dia di hadapanya
tapi sepertinya kopi hitamnya itu lebih menarik dari pada gadis di hadapanya.
“jika kopi itu lebih menarik dariku hingga kamu tak
memperdulikanku, maka seharusnya aku pergi dari sini. Karena semuanya terasa
percuma” Rain mulai beranjak dari tempat duduknya namun sebelah tangan kirinya
tertahan oleh tangan kanan milik Edgar. Edgar menatap Rain seolah-olah
menyuruhnya untuk tetap duduk. Rain mengangguk.
“ kamu sudah mengetahui namaku, lalu apalagi yang kamu
inginkan dariku?” kalimat itu terdengar sangat datar dan menyeramkan di telinga
Rain, Rain menunduk bingung harus menjawab apa. Dia menggigit pipi dalamya
sebelum akhirnya menatap wajah lelaki di hadapanya yang juga sedang
memandanginya
“ mengapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Rain
“salah bila aku bertanya seperti itu?” Edgar bertanya
kembali, Rain menegak ludahnya. Dia hanya bisa diam
“kamu tahu, di dunia ini hanya ada dua type lelaki yaitu
lelaki brengsek dan lelaki banci, aku adalah type lelaki brengsek. Maka dari
itu jangan pernah mencaritahu tentangku lagi.”
Edgar beranjak dari mejanya, terhitung baru tiga langkah
Rain berteriak dari mejanya
“tapi aku mencintaimu brengsek!!!” tangisnya pecah
airmatanya turun seperti air terjun, Edgar pria brengsek itu tak mengindahkan
teriakanya, jangankan untuk kembali dan meminta maaf pada Rain, menoleh pun
tidak.
Kini gadis itu mengerti dia terlalu cepat menilai orang,
dia juga terlalu bodoh untuk jatuh cinta pada pria yang baru sekali di
temuinya. Tak semua pria yang dia anggap baik sebenarnya juga baik. Edgar
contohnya pria yang yang dia kagumi, dia anggap baik juga lembut tapi nyatanya
dia brengsek.
No comments:
Post a Comment